Selasa, 16 April 2013

makalah strongyloides stercoralis





BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Menurut klasifikasi dalam Helminthologi kedokteran dikenal 31 spesies Nematoda yang dapat menginfeksi manusia, namum tidak semua spesies memiliki masalah epidemologi yang luas. Dari sekian banyak ordo yang dikenal dalam class phasmidia, hanya dua ordo utama yang penting bagi Helminthologi kedokteran yaitu ordo Rhabditida dan ordo Spirurida. Dari dua ordo ini terdapat 9 superfamilia yang terdiri dari 20 spesies yang menginfeksi manusia dan yang penting ditinjau dari segi epidemologisnya. Superfamilia tersebut diantaranya adalah Strongyloides Stercoralis yang akan dibahas pada makalah ini.
Strongyloides Stercoralis merupakan salah satu parasit yang termasuk dalam klasifikasi nematode usus dalam superfamilia Rhabditoidea, strongyloides stercoralis menyebabkan penyakit yang disebut strongyloidiasis atau cochen china diarrhea.
Pada penderita yang sering menggunakan obat golongan steroid atau mereka yang mempunyai gangguan kekebalan tubuh sering meninggal dunia akibat infeksi cacing strongyloides stercoralis.
1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Pengenalan cacing strongyloides stercoralis
2.      Distribusi geografis strongyloides stercoralis
3.      Siklus hidup strongyloides stercoralis
4.      Morfologi strongyloides stercoralis
5.      Manifestasi klinis
6.      Diagnose laboratories
7.      Pengobatan
8.      Epidemologi
1.3  TUJUAN
1.      Mengetahui cacing strongyloides stercoralis.
2.      Dapat mengetahui Distribusi geografis strongyloides stercoralis.
3.      Mengetahui siklus hiduo serta morfologi dari cacing strongyloides stercoralis.
4.      Mengetahui Diagnose laboratories dan pengobatannya.
5.      Agar dapat mengetahui Manifestasi klinis dan epidemologi cacing strongyloides stercoralis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 STRONGYLOIDES STERCORALIS
Satu – satunya cacing yang penting dalam ilmu kedokteran dan termasuk dalam super familia Rhabditoidea familia strongyloididae adalah strongyloides stercoralis dan strongyloides fuelleborni. Penyakit yang ditimbulikan disebut strongyloidiasis atau cochen china diarrhea dan nampaknya prevalensinya makin bertambah akhir – akhir ini karena makin sering digunakannya obat – obat golongan immunosuppressive. Pada awalnya penyakit ini sering dijumpai pada para tentara yang dikirimkan ke timur jauh selama perang dunia II.
2.2 DISTRIBUSI GEOGRAFIS STRONGYLOIDES STERCORALIS
Strongyloidiasis sering dijumpai di daerah tropis dan sub tropis serta beberapa daerah yang beriklim dingin. Sampai saat ini diperkirakan lebih dari 35 juta orang yang terinfeksi setiap tahunnya. Strongyloidiasis yang disebabkan oleh strongyloides fuelleborni lebih sering dijumpai di daerah pasifik.
2.3 SIKLUS HIDUP STRONGYLOIDES STERCORALIS
Dikenal empat macam siklus hidup cacing strongyloides stercoralis yaitu :
a.       Siklus hidup secara langsung
b.      Siklus hidup secara tidak langsung
c.       External autoreinfection
d.      Internal autoreinfection.
Keempat jenis siklus hidup dapat terjadi bersamaan atau sendiri – sendiri atau merupakan kombinasi dari keempatnya tergantung pada kondisi hidupnya saat itu.
a.       Siklus hidup secara langsung
Siklus hidup secara langsung paling sering terjadi. Siklus ini dimulai dengan larva rhabditiform yang dikeluarkan dari tubuh host bersama tinja. Larva ini bila tiba dilingkungan yang cukup baik dan dapat menunjang kelangsungan hidupnya akan berkembang menjadi larva yang lebih dewasa, yang dinamakan larva filariform, dalam waktu 24 jam. Larva filariform merupakan larva yang infeksius dan siap menginfeksi host ( manusia ) yang lain. Biasanya larva ini memasuki tubuh host dengan cara penetrasi kulit untuk selanjutnya memasuki peredaran darah atau limfe. Dengan mengikuti aliran darah  sampailah larva ini di jantung dan paru. Didalam paru, larva filariform ini tinggal di alveolus selama 10 – 24 hari kemudian bermigrasi ke saluran nafas. Dari saluran nafas, larva yang telah lebih dewasa ini bergerak menuju glottis dan bila tertelan sampailah dia dilambung dan akhirnya di usus halus.
Di usus halus larva ini berkembang menjadi cacing dewasa. Biasanya diperlukan waktu sekitar 28 hari mulai dari larva rhabditiform sampai menjadi cacing dewasa. Cacing betina menghasilkan telur yang dalam waktu singkat menetas menjadi larva rhabditiform dalam usus host. ( beberapa pakar mengatakan bahwa cacing betina ini parthenogenesis ). Selanjutnya siklus hidup cacing dimulai lagi seperti yang diuraikan diatas.
b.      Siklus hidup secara tidak langsung
Siklus hidup secara tidak langsung juga dimulai dengan larva rhabditiform yang keluar bersama – sama tinja host. Apabila larva masuk ke dalam lingkungan yang cocok, ia akan tumbuh menjadi larva filariform dan selanjutnya menjadi cacing dewasa yang hidup ditanah sebagai free living hookworm. Cacing free living ini tentu saja dapat menghasilkan larva rhabditiform dan filariform sebagai generasi free living berikutnya. Disamping itu larva filariform yang ada dapat pula menginfeksi host baru dan melangsungkan siklus hidup seperti siklus hidup secara langsung. Siklus hidup secara tidak langsung lebih sering terjadi dilingkungan yang kurang optimal seperti misalnya di daerah beriklim dingin.
c.       Siklus hidup secara external autoreinfection
Siklus hidup secara external autoreinfection terjadi pada kasus tertentu saja. Pada siklus cara ini, larva rhabditiform yang dikeluarkan bersama tinja akan tinggal di perianal dan menjadi larva filariform. Larva filariform kemudia akan melakukan penetrasi mukosa perianal, masuk ke pembuluh darah, jantung, paru dan kembali ke usus untuk menjadi cacing dewasa.
d.      Siklus hidup internal autoreinfection
Siklus hidup ini hanya terjadi pada kasus dengan immune deficient dan orang yang mendapat banyak obat immune suppressive. Pada siklus ini larva rhabditiform setelah menetas berkembang menjadi larva rhabditiform yang kerdil. Larva terakhir ini langsung melakukan penetrasi mukosa usus colon serta rectum dan melanjutkan siklus hidupnya sperti yang telah diuraikan pada siklus hidup secara langsung. Siklus hidup dengan cara autoreinfection ini menyebabkan peningkatan jumlah cacing secara cepat dan terjadi tanpa kontaminasi antara penderita dengan tanah terlebih dahulu. Diperkirakan infeksi dengan cara ini dapat berlangsung sampai 40 tahun atau lebih.
2.4 MORFOLOGI STRONGYLOIDES STERCORALIS
Cacing jantan yang parasitic maupun yang free living memiliki bentuk yang sama dan berukuran 0,7 mm. pada bagian interior tubuhnya terlihat adanya buccal cavity yang pendek atau bahkan tidak ada. Esophagusnya bertipe rhabditiform. Terdapat sepasang spicule yang diliput gubernaculums. Disamping itu dapat pula ditemukan adanya anal papillae.
Cacing betina yang free living dan yang parasitic dibedakan berdasarkan ukuran. Bentuk esofagus dan letak vulvanya. Cacing betina yang parasitic berukuran 2,2 x 0,04 mm. esofagusnya panjang bertipe filariform dan vulvanya terletak di 1/3 anterior dari tubuhnya. Sedangkan yang free living berukuran lebih kecil yaitu 1 x 0,06 mm, esofagusnya bertipe rhabditiform dan vulvanya terletak di 2/5 anterior tubuhnya.
Larva rhabditiform strongyloides stercoralis dapat diidentifikasi berdasarkan bentuk buccal cavitynya yang pendek dan genital premordialnya yang besar mengandung banyak sel. Esophagus larva ini sesuai namanya adalah tipe rhabditiform. Larva inilah yang merupakan diagnostic penyakit strongyloidiasis, karena sering ditemukan dalam tinja. Bentuk larva ini perlu dibedakan dari larva cacing tambang ( hookworm ) pada umunya. Larva rhabditiform hookworm memiliki buccal cavity yang panjang dan genital premodial yang lebih kecil.
Larva filariform cacing ini memiliki buccal cavity yang pendek sperti larva rhabditiformnya, namun memiliki esophagus bertipe filariform. Ciri khasnya adalah ekornya yang bercabang ( fork shape tail ). Bentuk ekor yang bercabang inilah yang membedakannya dari larva filariform hookworm.
2.5 MANIFESTASI KLINIS
Larva filariform yang menembus kulit sewaktu menginfeksi manusia menimbulkan perasaan gatal dan erythema. Kelainan kulit yang ditimbulkan dinamakan larva currens dengan bentuk seperti ereeping eruptions.
Sewaktu larva mencapai paru, larva ini akan menetap selama 10 – 14 hari dan menimbulkan gejala kelainan paru yang cukup serius seperti misalnya batuk, demam, eosinifilia, perdarahan dan pneumonia. Kelainan ini sangat mungkin disebabkan oleh proses allergi. Disamping keadaan ini, septicemia dengan kuman gram negative sering menyertai gejala – gejala tadi. Oleh karena itu terjadinya meningitis dan pneumonia sering dianggap sebagai komplikasi dari migrasi larva ditubuh penderita.
Di usus cacing ini menyebabkan kerusakan sebagai akibat mekanis maupun lisis. Kerusakan selaput lender usus ini menimbulkan perlukaan usus. Bila perjalanan penyakit cukup lama akibat yang ditimbulkannya berupa fibrosis usus dan tidak jarang steatorrhoea. Kelainan ini semua dinamakan pan mucosal duodenitis yang ditandai dengan diare yang mengandung lender, rasa sakit perut seperti kelaparan, animea dan penurunan berat badan. Diare semacam ini disebut coechen china diarrhea.
Para penderita yang sering menggunakan obat golongan steroid atau mereka yang mempunyai gangguan kekebalan tubuh sering meninggal dunia akibat infeksi cacing ini. Hyperinfection dapat terjadi sebagai akibat dari internal autoreinfection. Hyperinfection pada umunya menyebabkan timbunan larva yang massive di paru penderita dan berakhir dengan kematian. Dilaporkan juga bahwa 10 – 40% penderita yang mengalami gangguan kekebalan tubuh tidak menunjukkan adanya eosinofilia. Infeksi kronis dengan cacing ini tidak jarang menimbulkan ras yang kumat – kumatan di daerah lipat paha.
2.6 DIAGNOSE LABORATORIES
Diagnose strongyloidiasis ditegakkan dengan memeriksa tinja penderita dan menemukan adanya larva. Namun larva ini harus dibedakan dengan larva cacing tambang ( hookworm ).
Cara lain untuk menegakkan diagnose adalah dengan melakukan enterotest. Pada cara pemeriksaan ini, penderita diminta untuk menelan kapsul gelatin yang diberi benang nylon. Setelah kapsul tadi mencapai usus halus, benang tadi ditarik dan lendir yang menempel di benang diperiksa di bawah mikroskop untuk menemukan adanya larva.
2.7 PENGOBATAN
Thiabendazole dan mebendazole sering digunakan orang untuk mengobati strongyloidiasis. Selain kedua jenis obat tersebut WHO juga merekomendasikan pemberian albendazole. Disamping itu perlu juga diberikan terapi penunjang seperti misalnya antibiotika bila diketahui telah terjadi autoreinfection dan obat untuk mengatasi animia.
2.8 EPIDEMOLOGI
Selain penularan melalui tanah, dikenal pada penularan melalui air susu ( transmammary ) dan penularan melalui oral – anal sex. Beberapa pakar mengatakan bahwa anjing dan kucing sering bertindak sebagai reservoir dalam infeksi pada manusia.
Pencegahan penularan terutama ditujukan pada pengawasan pembuangan tinja manusia, dan cara berperilaku yang higienis.
Berhubung hyperinfection sering dijumpai pada penderita yang harus diberi obat – obat corticosteroid, maka sebaiknya terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap terjadinya infeksi cacing ini dan apabila memang benar terjadi harus dilakukan pengobatan dengan baik.


BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Satu – satunya cacing yang penting dalam ilmu kedokteran dan termasuk dalam super familia Rhabditoidea familia strongyloididae adalah strongyloides stercoralis dan strongyloides fuelleborni. Penyakit yang ditimbulikan disebut strongyloidiasis atau cochen china diarrhea.
Dikenal empat macam siklus hidup cacing strongyloides stercoralis yaitu :
e.       Siklus hidup secara langsung
f.       Siklus hidup secara tidak langsung
g.      External autoreinfection
h.      Internal autoreinfection.
Thiabendazole dan mebendazole sering digunakan orang untuk mengobati strongyloidiasis. Selain kedua jenis obat tersebut WHO juga merekomendasikan pemberian albendazole.
3.2 SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna namun penulis berharap makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca. Tidak lupa penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar penulisan makalah – makalah kedepannya bisa lebih baik lagi. Demikian penulis mengucapkan terimakasi.

Comments
2 Comments

2 komentar:

Poskan Komentar