Yazhid Blog

.

Jumat, 05 Desember 2014

Makalah jamur tenia versikolor

BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Tinea versikolor adalah infeksi jamur superfisial yang kronik pada stratum korneum kulit dan b... thumbnail 1 summary
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Tinea versikolor adalah infeksi jamur superfisial yang kronik pada stratum korneum kulit dan biasanya tidak terdapat keluhan subyektif. Sinonim dari tinea versikolor adalah pitiriasis versikolor, dermatomikosis furfurasea, kromofitosis, liver spots, tinea flava, tinea versikolor tropika, dan panu. Penyakit ini untuk pertama kali dikenal sebagai penyakit jamur pada tahun 1846 oleh Eichted. Pada tahun 1853, Robin memberikan nama pada  jamur penyebab penyakit ini dengan nama Microsporum furfur dan pada 1889 oleh Baillon spesies ini diberi nama Mallassezia furfur. Penelitian selanjutnya dan sampai sekarang menunjukkan bahwa Malassesia furfur dan Pityrosporum orbicularemerupakan organisme yang sama.
Tinea versikolor termasuk penyakit universal tapi lebih banyak dijumpai di daerah tropis oleh karena tingginya temperatur dan kelembaban. Pada beberapa negara seperti Meksiko, Samoa, Amerika Tengah, Amerika Selatan, India, Afrika, Kuba, Asia Barat, dan Fiji lebih dari 50% penduduknya menderita tinea versikolor. Menyerang hampir semua usia terutama remaja, terbanyak pada usia 16-40 tahun. Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita, walaupun di Amerika Serikat dilaporkan bahwa penderita berusia 20-30 tahun dengan perbandingan 1,09% pria dan 0,6% wanita. Menurut laporan Diana dkk pada tahun 1993 untuk epidemiologi mikosis superfisialis, di Indonesia angka prevalensi tinea versikolor menempati urutan pertama yakni 53,2% disusul dengan dermatofitosis dan kandidiasis kutis.
Tinea versikolor memiliki karakteristik berupa makula yang multipel dan bercak lesi yang bervariasi mulai dari hipopigmentasi, kekuning-kuningan, kemerahan sampai kecoklatan atau hiperpigmentasi tergantung dari warna normal kulit pasien. Tinea versikolor bercaknya terutama meliputi badan, dan kadang-kadang dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka, dan kulit kepala yang berambut.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Etiologi tinea versikolor
2.      Bagaimana morfologi tinea versikolor ?
3.      Bagaimana epidemiologi tinea versikolor ?
4.      Bagaimana pathogenesis tinea versikolor ?
5.      Bagaimana diagnosis tinea versikolor ?
6.      Bagaimana gejala klinis tinea versikolor ?
7.      Bagaimana pencegahan dan pengobatan tinea versikolor ?
1.3  Tujuan
1.      Mengetahui etiologi jamur tinea versikolor
2.      Mengetahui morfologi jamur tinea versikolor
3.      Mengetahui epidemiologi tinea versikolor
4.      Mengetahui pathogenesis tinea versikolor
5.      Mengetahui diagnosis jamur tinea versikolor
6.      Mengetahui gejala klinis tinea versikolor
7.      Mengetahui pencegahan dan pengobatan tinea versikolor



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Etiologi Jamur Tinea Versikolor
Tinea versikolor merupakan suatu infeksi yang agak sering terjadi (terutama pada dewasa muda), yang disebabkan oleh jamur Pytirosporum orbiculare. Jamur ini agaknya merupakan bagian dari flora normal pada kulit manusia dan hanya menimbulkan gangguan pada keadaan-keadaan tertentu. Bagian tubuh yang sering terkena adalah punggung, lengan atas, lengan bawah, dada dan leher. Lebih sering ditemukan di daerah beriklim panas dan berhubungan dengan meningkatnya pengeluaran keringat.

Tinea versikolor di sebabkan oleh Malassezia furfur, yang dengan pemeriksaan morfologi dan imunofloresensi indirek ternyata identik dengan Pityrosporum orbiculare.
2.2 Morfologi Jamur Tinea Versikolor
Tinea versicolor adalah infeksi ringan yang sering terjadi yang nampak sebagai akibat Malassezia furfur yang tumbuh berlebihan, yaitu jamur seperti ragi yang merupakan anggota flora normal. Pertumbuhannya pada kulit (stratum korneum) berupa kelompok sel-sel bulat,bertunas, berdinding tebal dan memiliki hifa yang berbatang pendek dan bengkok, biasanya tidak menyebabkan tanda-tanda patologik selain sisik halus sampai kasar. Bentuk lesi tidak teratur, berbatas tegas sampai difus dan ukuran lesi dapat milier,lentikuler, numuler sampai plakat.
v  Ada dua bentuk yang sering dijumpai :
Bentuk makuler :
Berupa bercak-bercak yang agak lebar, dengan sguama halus diatasnya dan tepi tidak        meninggi.
Bentuk folikuler :
Seperti tetesan air, sering timbul disekitar rambut.
2.3 Epidemiologi Tinea Versikolor
Pitiriasis versikolor lebih sering terjadi di daerah tropis dan mempunyai kelembabab tinggi. Walaupun kelainan kulit lebih terlihat pada orang berkulit gelap, namun angka kejadian pitiriasis versikolor sama di semua ras. Beberapa penelitian mengemukakan angka kejadian pada pria dan wanita dalam jumlah yang seimbang. Di Amerika Serikat, penyakit ini banyak ditemukan pada usia 15-24 tahun, dimana kelenjar sebasea (kelenjar minyak) lebih aktif bekerja. Angka kejadian sebelum pubertas atau setelah usia 65 tahun jarang ditemukan. Di negara tropis, penyakit ini lebih sering terjadi pada usia 10-19 tahun.
Pitiriasis versiklor, atau tinea versikolor, atau panu termasuk mikosis superfisialis yang sering dijumpai. Sekitar 50% penyakit kulit di masyarakat daerah tropis adalah panu, sedang di daerah subtropis sekitar 15% dan di daerah dingin kurang dari 1%. Panu umumnya tidak menimbulkan keluhan, paling-paling sedikit gatal, tetapi lebih sering menyebabkan gangguan kosmetik, terutama pada penderita wanita.
2.4 Patogenesis Tinea Versikolor
Tinea Versikolor, merupakan organisme saprofit pada kulit normal. Bagaimanaperubahan dari saprofit menjadi patogen belum diketahui. Organisme ini merupakan "lipid dependent yeast". Timbulnya penyakit ini juga dipengaruhi oleh faktor hormonal, ras, matahari,peradangan kulit dan efek primer pytorosporum terhadap melanosit.
Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya pitiriasis versikolor ialah pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau pityrosporum ovale yang berbentuk oval. Keduanya merupakan organisme yang sama, dapat berubah sesuai dengan lingkungannya, misalnya suhu, media, dan kelembaban.
Malassezia furfur merupakan fase spora dan miselium. Factor predisposisi menjadi pathogen dapat endogen atau eksogen. Endogen dapat disebabkan di antaranya oleh defisiensi imun. Eksogen dapat karena faktor suhu, kelembaban udara, dan keringat.

2.5 Diagnosis Tinea Versikolor
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan atas gambaran klinis, pemeriksaan fluoresensi, lesi kulit dengan lampu Wood, dan sedian langsung.
Gambaran klinis yang khas berupa bercak bewarna putih sampai coklat, merah dan hitam, dengan distribusi tersebar, berbatas tegas dengan skuama halus diatasnya. Pada pemeriksaan mikroskopis langsung, dengan larutan KOH 10-20%, tampak hifa pendek bersepta, kadang-kadang bercabang, atau hifa terpotong-potong, dengan spora berkelompok. Pemeriksaan dengan lampu Wood memberikan floresensi berwarna kuning emas.                                        
*      Diagnosis Banding
Penyakit ini harus di bedakan dengan :
Dermatitis seboroika : Kelainan kulit berupa eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan, batasnya agak kurang tegas. Predileksinya pada daerah yang berambut, karena banyak kelenjar sebasea, yaitu kulit kepala, retroaurikkula, alis mata, bulu mata, sulkus nasolabialis, telinga, leher, dada, daerah lipatan, aksila, inguinal, glutea, dibawah buah dada.
Eritrasma : Lesi berupa eritema dan skuama halus terutama pada daerah ketiak dan lipatran paha. Pada pemeriksaan  dengan lampu Wood lesi terlihat berfluoresensi merah membara (coral red fluorescence) di sebabkan oleh terdapatnya koproporfirin III pada lesi. Organisme yang terlihat pada sediaan langsung  sebagai batang pendek halus, bercabang, berdiameter 1 u atau kurang, yang mudah putus sebagai bentuk basil kecil atau difteroid.
Sifilis II : disertai limfadenitis generalisata
Morbus Hansen : terdapat hipopigmentasi/eritema dengan distribusi yang tidak simetris dan hilangnya sensasi yang jelas pada daerah lesi (kehilangan sensoris/anastesia karena menyerang susunan saraf tepi).
Pitiriasis alba : Sering di jumpai pada anak-anak berumur 3-16 tahun (30-40%). Lesi berbentuk bulat, oval atau plakat yang tidak beraturan. Warna merah muda atau sesuai warna kulit dengan skuama halus. Setelah eritema hilang, lesi yang dijumpai hannya depigmentasi dengan skuama halus. Bercak biasanya multipel 4 sampai 20 dengan diameter antara ½-2 cm. Pada anak-anak lokasi kelainan pada muka (50-60%), paling sering disekitar mulut, dagu, pipi, serta dahi. Umunya lesi bersifat asimtomatik, meskipun kadang-kadang penderita mengeluhkan panas atau gatal.
Vitiligo : Kelainan ini berupa makula berwarna putih (hipopigmentasi) yang hipomelanotik di daerah terbuka misalnya muka, punggung, tangan. Makula mempunyai gambaran konveks dan bertambah secara teratur. Gejala subyektif tidak ada, tetapi dapat timbul rasa panas pada lesi
2.6 Gejala Klinis Tinea Versikolor
Kelainan kulit pitiriasis versikolor sangat superfisial dan ditemukan terutama di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni, bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas dan difus. Bercak-bercak tersebut berfluoresensi bila di lihat dengan lampu Wood. Bentuk papulo-vesikular dapat terlihat walaupun jarang. Kelainan biasanya asimtomatik sehingga ada kalanya penderita tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut.
Lesi kulit berupa bercak putih sampai coklat, merah, dan hitam. Di atas lesi terdapat sisik halus. Bentuk lesi tidak teratur, dapat berbatas tegas atau difus. Sering didapatkan lesi bentuk folikular atau lebih besar, atau bentuk numular yang meluas membentukplakat, kadang-kadang dijumpai bentuk campuran, yaitu folikular dengan numular, folikular dengan plakat ataupun folikular, atau numular dengan plakat.
Kadang-kadang penderita dapat merasakan gatal ringan, yang merupakan alasan berobat. Pseudoakromia, akibat tidak terkena sinar matahari atau kemungkinan pengaruh toksik jamur terhadap pembentukan pigmen, sering di keluhkan penderita. Biasanya penderita datang berobat karena alasan kosmetik yang disebabkan bercak hipopigmentasi.
Variasi warna lesi pada penyakit ini tergantung pada pigmen normal kulit penderita, paqparan sinar matahari, dan lamanya penyakit. Kadang-kadang warna lesi sulit dilihat, tetapi skuamanya dapat dilihat dengan pemeriksaan goresan pada permukaan lesi dengan kuret atau kuku jari tangan (coup d’angle dari Beisner).
Penyakit ini sering di lihat pada remaja, walaupun anak-anak dan orang dewasa tua tidak luput dari infeksi. Menurut BURKE *(1961) ada beberapa faktor yang mempengaruhi infeksi, yaitu faktor heriditer, penderita yang sakit kronik atau yang mendapat pengobatan steroid dan malnutrisi.
2.7 Pencegahan Dan Pengobatan Tinea Versikolor
*      Pengobatan
Obat Topikal
Dapat dipakai misalnya suspensi selenium sulfida 2,5% dalam bentuk losion atau bentuk sampo dipakai 2-3 kali seminggu. Obat digosokkan pada lesi dan didiamkan 15-30 menit sebelum mandi.
Obat-obat lain ialah salisil spiritus 10%; derivat-derivat azol, misalnya mikonazol, krotrimazol, isokonazol, dan ekonazol; sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20%; toksiklat; tolnaftat, dan haloprogin. Larutan tiosulfas natrikus 25% dapat pula digunakan; dioleskan sehari 2 kali sehabis mandi selama 2 minggu, tetapi obat ini berbau tidak enak.
Obat Sistemik
Obat ini digunakan jika lesi sulit disembuhkan atau luas. Ketokonazol dapat dipertibangkan  dengan dosis 1 kali 200 mg sehari selama 10 hari.
*      Pencegahan
Seseorang yang pernah menderita tinea versikolor sebaiknya menghindari cuaca panas atau keringat yang berlebihan.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tinea versikolor merupakan suatu infeksi yang agak sering terjadi (terutama pada dewasa muda), yang disebabkan oleh jamur Pytirosporum orbiculare.
Ada dua bentuk yang sering dijumpai
·         Bentuk makuler
·         Bentuk folikuler 
Pitiriasis versikolor lebih sering terjadi di daerah tropis dan mempunyai kelembabab tinggi. Pitiriasis versiklor, atau tinea versikolor, atau panu termasuk mikosis superfisialis yang sering dijumpai.
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan atas gambaran klinis, pemeriksaan fluoresensi, lesi kulit dengan lampu Wood, dan sedian langsung.
Obat ini digunakan jika lesi sulit disembuhkan atau luas. Ketokonazol dapat dipertibangkan  dengan dosis 1 kali 200 mg sehari selama 10 hari.
Obat-obat lain ialah salisil spiritus 10%; derivat-derivat azol, misalnya mikonazol, krotrimazol, isokonazol, dan ekonazol; sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20%; toksiklat; tolnaftat, dan haloprogin. Larutan tiosulfas natrikus 25% dapat pula digunakan; dioleskan sehari 2 kali sehabis mandi selama 2 minggu, tetapi obat ini berbau tidak enak.
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bias lebih baik lagi, atas perhatiannya penulis ucapkan terimakasih.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Recent Posts